 Oleh: Restituta Ajeng Arjanti
Sebagai salah satu pendukung program IGOS (Indonesia, Go Open Source!), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) sudah mulai menggunakan open source software (OSS), sejak awal 2000. Indra Utoyo, Direktur TI PT Telkom, menuturkan, saat itu Telkom baru menggunakan OSS untuk sistem operasi server. Baru kemudian di tahun 2005, implementasi desktop dalam skala unit dan terbatas dilakukan di perusahaan tersebut.
Pada tahap awal, mereka menjajal OSS dalam skala kecil, di Divisi Information System Center (ISC), dengan mengimplementasikan aplikasi desktop yang terbatas. Penggunaannya pun paralel dengan penggunaan aplikasi proprietary. Telkom berencana untuk memperluas implementasi OSS ke semua divisinya secara bertahap dan selektif. Untuk level karyawan, misalnya.
Perusahaan telekomunikasi nomor satu di Indonesia itu menargetkan bisa mencapai komposisi penggunaan TI sebesar 80:20, 80 persen untuk OSS dan 20 persen untuk aplikasi proprietary, pada tahun 2010.
Implementasi OSS
Berpindah aplikasi membutuhkan adaptasi. Pun hal itu dialami oleh Telkom. “Secara umum, masih ada kendala dalam hal kesesuaian formatting dokumen dan user familiarity,” kata Indra. Ia merasa, kesulitan utama justru terletak pada kebiasaan pengguna―apalagi Telkom merupakan perusahaan dengan jumlah SDM yang besar, serta punya segmentasi dan jangkauan layanan yang luas.
Sebelum benar-benar mengimplementasikan OSS, ada beberapa pertimbangan yang harus mereka pikirkan. “Yang pertama adalah aspek kemudahan penggunaan oleh user. Kedua, kompatibilitas atau dukungan terhadap hardware dan infrastruktur yang telah digunakan oleh Telkom. Ketiga, kesesuaian terhadap format dokumen. Dan yang terakhir, tingkat kematangan solusi OSS yang diadopsi,” kata Indra.
Menurutnya, hal-hal tersebut harus dipertimbangkan untuk mengurangi potensi risiko investasi yang berlebihan. Pasalnya, perubahan skema lisensi biaya software juga menuntut Telkom untuk mulai memperhitungkan keberadaan OSS. Bagaimana cara mengefisiensikan biaya operasional dan mengakomodir kebutuhan pengguna TI yang besar di perusahaan―itu harus mereka pikirkan. Tanpa mengurangi kualitas dan relevansi software untuk pengguna di Telkom, OSS pun jadi solusi yang lebih terjangkau.
Asal Anda tahu, kurang lebih sejak Maret 2007, Telkom telah secara makro mencanangkan pemanfaatan OSS sebagai solusi bisnisnya.
Fokus ke Public Value
Indra berpendapat bahwa dunia TI saat ini cenderung mengalami transformasi paradigma, dari 'total cost' ke 'total value'. Kecenderungan itu, akhirnya menggeser fokus nilai TI dari 'business value' menjadi 'public value'. Jika dulu penggunaan TI semata hanya untuk tujuan bisnis, kini penggunaan TI, meski tak langsung, juga bermanfaat terhadap masyarakat dan dinamika ekonomi makro. “Public value ini mampu menciptakan kemandirian dan demokratisasi industri dengan lahirnya pilihan-pilihan software gratis, proprietary, atau open source software,” katanya.
Indra sendiri merasa optimis dengan perkembangan sosialisasi OSS di kalangan masyarakat, apalagi ia melihat pemerintah ikut berperan dalam usaha tersebut. Ia menambahkan, konsistensi secara regulasi terhadap pemberdayaan TI Indonesia juga diperlukan untuk mengembangkan OSS di Tanah Air.
Foto: www.ebizzasia.com
|