HOME  CERITA-SUKSES  DISTRO  BERITA  PETA DUKUNGAN  PENYEDIA-JASA  QBHEADLINES  GCOS 
   




Linuxindo: Dijamin 100% Linux dan Tidak Kecewa

Menkominfo Membuka GCOS 2009

OSS, Low Cost Tapi Kompetitif

Asia Afrika Serius Kembangkan Open Source

Industri Media Cerita Tentang Open Source

OSS Sesuai dengan Kultur Masyarakat Indonesia

EasyHotspot, Satu Lagi Kontribusi untuk Dunia Open Source

OSS Lebih Kaya Ketimbang Software Komersial

Software Legal dan Gratis Pasti Jadi Kebutuhan

Open Source Software Hanya Perlu Disosialisasikan

Warnet Majao, Membiasakan Pengunjung Pakai OSS

SEAMOLEC, Membuka Akses Pendidikan dengan OSS

Asosiasi Open Source Indonesia Resmi Berdiri

Onno W. Purbo: Sosialisasi OSS Bisa Lewat Buku Pelajaran TI

Pixel People Project: Open Source Dorong Kreativitas

Detik.com, Nyaman dengan OSS

Anjar Hardiena: Akrab dengan OSS Hanya Masalah Kebiasaan

PT Tempo Inti Media, Makin Kenal, Makin Sayang dengan Linux

Telkom Pilih OSS sebagai Solusi Bisnis

BIM Mastel, Bikin Orang Desa Tak Gagap Open Source

IGOS Semakin Mantap!

 
  
 

Onno W. Purbo: Sosialisasi OSS Bisa Lewat Buku Pelajaran TI  

Oleh: Reney Lendy Mosal

Penggunaan buku-buku pelajaran komputer di sekolah bisa dijadikan salah satu dari sekian banyak cara untuk mempopulerkan penggunaan OSS di masyarakat. Begitu dikatakan oleh Onno W. Purbo, praktisi TI yang juga salah satu tokoh penggiat open source software (OSS) di Indonesia, dalam wawancara dengan QBHeadlines.com, Senin (23/6) lalu.

"Selama buku pelajaran TI di sekolah masih pakai Microsoft, terus terang saya pesimis. Sosialisasi OSS hanya akan berhasil kalau buku pelajaran TI menggunakan open source," katanya. Saat ini, memang kebanyakan buku pelajaran komputer berbasis pada aplikasi Microsoft.

Onno merupakan salah satu tokoh Indonesia yang giat mempopulerkan penggunaan OSS kepada masyarakat. Atas aktivitasnya mengkampanyekan OSS di Indonesia, berbagai penghargaan sudah diterimanya. Salah satunya adalah penghargaan IGOS Summit 2 Award 2008 dari Menkominfo Mohammad Nuh.

Pakar TI lulusan ITB dengan predikat wisudawan terbaik ini mengaku mulai menggunakan OSS sejak 1985. Pada tahun 1985-1990-an, menurut Onno, orang yang hobi ngoprek komputer mau tak mau harus menggunakan OSS untuk bermain dengan jaringan komputer.

Pengalaman Pertama dengan OSS

OSS pertama yang digunakannya adalah Network Operating System (NOS) untuk jaringan komputer paket radio yang beroperasi di dalam DOS. "Karena NOS berbentuk open source, saya sempat mengedit source code-nya dan menambahkan fitur di NOS untuk melakukan transfer News Transport Protocol (NNTP). Ini sekitar tahun 1988-1989 lah," kata Onno.

Praktis, pengalamannya itu tak membuatnya kesulitan saat harus berhadapan dengan aplikasi open source lainnya. Kendati demikian, dia mengaku membutuhkan banyak adaptasi saat menggunakan aplikasi OpenOffice.

Open source software yang kedua yang saya gunakan adalah FreeBSD. Waktu itu Linux masih muda banget, baru bisa compile kernel. FreeBSD kebetulan lebih dewasa dan advanced dalam urusan jaringan,” Onno menambahkan.

Awal Mula Sosialisasi OSS

Di Indonesia, Onno mulai gencar mensosialisasikan penggunaan OSS sejak 1993, tepatnya setelah dia menamatkan pendidikan S3 di Waterloo University, Kanada.

"Waktu itu bukan spesifik untuk OSS, tapi lebih untuk membuat jaringan internet," katanya. Alasannya karena Windows tak bisa banyak dieksplorasi. Sejak itu, Onno makin lantang bersuara tentang manfaat menggunakan OSS. Hingga sekarang, dia pun mengandalkan OSS untuk server dan router.

Bukan hanya lantang bersuara di media, di dalam rumahnya pun dia aktif mensosialisasikan OSS. Anak dan istrinya juga diajak menggunakan OSS. "Tapi anak saya masih suka menggunakan software proprietary. Maklum, mereka mau main game," kata Onno.

Kelebihan OSS

Bagi sulung dari tiga bersaudara ini, OSS memiliki banyak kelebihan. OSS tak ada gangguan virus, sehingga pengguna tidak perlu khawatir kehilangan data. Selain itu, menggunakan OSS berarti bisa terbebas dari rasa waswas jika suatu waktu pihak berwajib melakukan razia. Perasaan takut ini biasanya dihadapi oleh para pengguna proprietary software yang menggunakan versi bajakan.

Saat ditanya mengenai alasan masyarakat enggan bermigrasi ke OSS, Onno menjawab, "Biasanya takut karena tidak biasa. Memang, mayoritas pengguna komputer di Indonesia sudah terbiasa menggunakan Windows, baik orisinal maupun bajakan. Padahal, menggunakan OSS, selain faktor legalitas, juga banyak manfaatnya," kata Onno. Ia menambahkan, selama ini masyarakat sudah terlalu biasa dimudahkan dan dibuat bodoh oleh Microsoft. Padahal, kalau sudah biasa, sebenarnya tak ada masalah menggunakan OSS.

Foto: idrc.com

 
 

Asosiasi Open Source Indonesia
Jl. Buncit Persada No.1 Jakarta Selatan Indonesia T 62 21 7972204 F 62 21 7945013 E anin@qbheadlines.com