 Oleh: Reney Lendy Mosal
Penggunaan buku-buku pelajaran komputer di sekolah bisa dijadikan salah satu dari sekian banyak cara untuk mempopulerkan penggunaan OSS di masyarakat. Begitu dikatakan oleh Onno W. Purbo, praktisi TI yang juga salah satu tokoh penggiat open source software (OSS) di Indonesia, dalam wawancara dengan QBHeadlines.com, Senin (23/6) lalu.
"Selama buku pelajaran TI di sekolah masih pakai Microsoft, terus terang saya pesimis. Sosialisasi OSS hanya akan berhasil kalau buku pelajaran TI menggunakan open source," katanya. Saat ini, memang kebanyakan buku pelajaran komputer berbasis pada aplikasi Microsoft.
Onno merupakan salah satu tokoh Indonesia yang giat mempopulerkan penggunaan OSS kepada masyarakat. Atas aktivitasnya mengkampanyekan OSS di Indonesia, berbagai penghargaan sudah diterimanya. Salah satunya adalah penghargaan IGOS Summit 2 Award 2008 dari Menkominfo Mohammad Nuh.
Pakar TI lulusan ITB dengan predikat wisudawan terbaik ini mengaku mulai menggunakan OSS sejak 1985. Pada tahun 1985-1990-an, menurut Onno, orang yang hobi ngoprek komputer mau tak mau harus menggunakan OSS untuk bermain dengan jaringan komputer.
Pengalaman Pertama dengan OSS
OSS pertama yang digunakannya adalah Network Operating System (NOS) untuk jaringan komputer paket radio yang beroperasi di dalam DOS. "Karena NOS berbentuk open source, saya sempat mengedit source code-nya dan menambahkan fitur di NOS untuk melakukan transfer News Transport Protocol (NNTP). Ini sekitar tahun 1988-1989 lah," kata Onno.
Praktis, pengalamannya itu tak membuatnya kesulitan saat harus berhadapan dengan aplikasi open source lainnya. Kendati demikian, dia mengaku membutuhkan banyak adaptasi saat menggunakan aplikasi OpenOffice.
“Open source software yang kedua yang saya gunakan adalah FreeBSD. Waktu itu Linux masih muda banget, baru bisa compile kernel. FreeBSD kebetulan lebih dewasa dan advanced dalam urusan jaringan,” Onno menambahkan.
Awal Mula Sosialisasi OSS
Di Indonesia, Onno mulai gencar mensosialisasikan penggunaan OSS sejak 1993, tepatnya setelah dia menamatkan pendidikan S3 di Waterloo University, Kanada.
"Waktu itu bukan spesifik untuk OSS, tapi lebih untuk membuat jaringan internet," katanya. Alasannya karena Windows tak bisa banyak dieksplorasi. Sejak itu, Onno makin lantang bersuara tentang manfaat menggunakan OSS. Hingga sekarang, dia pun mengandalkan OSS untuk server dan router.
Bukan hanya lantang bersuara di media, di dalam rumahnya pun dia aktif mensosialisasikan OSS. Anak dan istrinya juga diajak menggunakan OSS. "Tapi anak saya masih suka menggunakan software proprietary. Maklum, mereka mau main game," kata Onno.
Kelebihan OSS
Bagi sulung dari tiga bersaudara ini, OSS memiliki banyak kelebihan. OSS tak ada gangguan virus, sehingga pengguna tidak perlu khawatir kehilangan data. Selain itu, menggunakan OSS berarti bisa terbebas dari rasa waswas jika suatu waktu pihak berwajib melakukan razia. Perasaan takut ini biasanya dihadapi oleh para pengguna proprietary software yang menggunakan versi bajakan.
Saat ditanya mengenai alasan masyarakat enggan bermigrasi ke OSS, Onno menjawab, "Biasanya takut karena tidak biasa. Memang, mayoritas pengguna komputer di Indonesia sudah terbiasa menggunakan Windows, baik orisinal maupun bajakan. Padahal, menggunakan OSS, selain faktor legalitas, juga banyak manfaatnya," kata Onno. Ia menambahkan, selama ini masyarakat sudah terlalu biasa dimudahkan dan dibuat bodoh oleh Microsoft. Padahal, kalau sudah biasa, sebenarnya tak ada masalah menggunakan OSS.
Foto: idrc.com |