|  Oleh: Restituta Ajeng Arjanti
Cerita pembentukan Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI), awalnya bernama Aliansi Open Source Indonesia, dimulai saat penutupan IGOS Summit 2, tanggal 28 Mei lalu. Saat itu, Harry Sufehmi, Teddy Sukardi, Sumitro Roestam, dan Rusmanto ditunjuk sebagai formatur dari asosiasi tersebut. Dalam kesempatan yang sama, mantan CEO IBM Indonesia, Betti Alisjahbana, dipilih menjadi Duta Open Source Indonesia.
Senin (30/6) kemarin, bertempat di Gedung Departemen Komunikasi dan Informasi, Jakarta, AOSI resmi didirikan. Penandatanganan dokumen pendiriannya dilakukan oleh 15 perusahaan yang telah komit sebagai anggota awal asosiasi, yakni Duta Astakona Girinda, Gudang Linux, IBM Indonesia, Infolinux, Jatis, Mugen, Nurul Fikri Cipta Inovasi, One Destination Center, Oracle Indonesia, Quantum Business International, Rimba Sindikasi Media, Sun Microsystem Indonesia, dan Yayasan Air Putih.
Menurut Betti Alisjahbana, AOSI dibentuk sebagai perhimpunan dari organisasi-organisasi penggiat open source dalam negeri. Tujuannya untuk memajukan gerakan open source di Indonesia, dalam hal kompetensi dan pengadopsiannya di semua kalangan masyarakat.
Menkominfo Mohammad Nuh yang juga hadir dalam acara tersebut menyatakan dukungan Depkominfo terhadap AOSI. Menurutnya, keberadaan AOSI bisa membuat gerakan open source dalam negeri menjadi sistematis karena memiliki kriteria dan mekanisme pencapaian untuk sukses. "Kominfo akan mem-backup dan bersinergi dengan AOSI untuk memajukan open source," katanya.
Parameter Sukses
"Ada 17 parameter sukses AOSI. Lima di antaranya adalah terbentuknya citra open source yang positif di mata masyarakat, pengadopsian open standard secara konkret di Indonesia, meningkatnya pangsa pasar dan jumlah pengguna open source (baik di perusahaan, perorangan dan pemerintah), tersedianya peripheral atau peranti pendukung open source bagi masyarakat, serta pendidikan TI berbasis open source dilakukan di sekolah-sekolah," kata Betti.
Untuk meraih harapan sukses tersebut, ia dan keempat formatur AOSI mempersiapkan beberapa program untuk dijalankan. Untuk program jangka pendek, dalam waktu 30 hari ke depan, Betti menyampaikan, AOSI akan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan bebeberapa departemen pemerintahan seperti Diknas, Depkominfo, Ristek, dan Depdagri untuk membicarakan hal-hal penting yang harus dilakukan untuk memajukan open source di Indonesia. Ia menambahkan, dalam forum tersebut, AOSI juga akan membicarakan penerapan open source di lingkungan pendidikan, serta menentukan kepengurusan tetap AOSI.
Mulai Bergerak
Salah satu formatur yang aktif dalam Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI), Rusmanto, usai acara menyampaikan, sebagai tahap awal AOSI akan mendata perusahaan-perusahaan yang menggunakan open source, dan yang bergerak dalam industri software. Dia menyampaikan, AOSI ingin mengadakan World Summit on Open Source (WSOS) sebagai forum nasional yang diadakan di Indonesia, namun mengundang para penggiat Linux dari seluruh dunia. Waktu ditanya kapan waktunya, Rusmanto menyampaikan pada tahun 2009.
Saat ini AOSI tengah menyiapkan sejumlah kelengkapan pendiriannya, termasuk penyusunan AD/ART dan kelengkapan dokumentasi. Dalam proses pendirian ini, AOSI ikut melibatkan Kominfo dan Ristek. Lewat situs www.aosi.or.id yang akan segera diluncurkan, AOSI akan mendata para pebisnis open source Indonesia dan mengembangkan keanggotaan. Selanjutnya, AOSI akan mulai mensosialisasikan open source serta melakukan training teknis dan bisnis. Sementara untuk mengampanyekan OSS di kalangan masyarakat, AOSI akan mengadakan sejumlah roadshow, pameran, dan publikasi perkembangan open source di dalam negeri.
Foto: Dok. Sumitro Roestam | |