|  Oleh: Restituta Ajeng Arjanti
Penggunaan open source software (OSS) sudah merambah industri media di Tanah Air, khususnya media online dan cetak. Mahalnya harga lisensi proprietary software utamanya membuat pengusaha yang bergerak di bidang media berpikir realistis, menggunakan OSS untuk mendukung bisnis mereka. Contoh media yang sudah mengimplementasikan OSS di antaranya Tempo, Detik.com, dan Pinpoint Publications.
Hal itu diungkap oleh Betti Alisjahbana, Duta Open Source Indonesia sekaligus Ketua Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI), dalam seminar bertajuk "Open Source di Industri Media" yang diadakan di Jakarta Convention Center, Rabu (12/11).
OSS di Media Online
Dalam acara tersebut, Betti yang juga pemain baru di bisnis media online, CEO dan Founder QB Creative, membagi pengalamannya mengimplementasikan OSS dalam bisnis barunya. "Dengan open source, membangun bisnis media online bisa dilakukan dengan cepat," tuturnya. Situs QBHeadlines.com yang merupakan bagian dari QB Creative, dia mencontohkan, sudah bisa dilihat perkembangannya, meski baru berjalan kurang dari satu tahun.
Sistem arsitektur media online tersebut murni menggunakan OSS sebagai basisnya. Contohnya Linux Ubuntu untuk sistem operasi, MySQL untuk database, dan PHP untuk pemrograman web. "Untuk aplikasi grafis, GIMP dan Photo Viewer bisa dipakai untuk mengedit atau mengubah ukuran gambar. Aplikasi office di antaranya OpenOffice.org, MyMoney FrontAccounting untuk software akuntasinya," paparnya. Sementara untuk aplikasi internet, aplikasi yang bisa dipilih di antaranya browser Mozilla Firefox dan Pidgin untuk aplikasi instant messaging.
Contoh lain implementasi open source bisa dilihat pada toko online QB Furniture. "Toko online ini dibangun kurang lebih hanya tiga minggu, mulai dari konsep awal sampai jadinya. Prosesnya bisa cepat karena kami mengambil skrip open source yang sudah jadi," jelas Betti. Ini memang keunggulan OSS. Siapa saja bisa menggunakannya, menirunya, memodifikasi, dan mengembangkannya.
Kendati demikian, mengimplementasikan OSS di perusahaan juga penuh dengan tantangan. Kendalanya pasti ada. Misalnya kesulitan mencari driver untuk perangkat yang dipakai di komputer Linux, pilihan distro Linux yang sangat beragam, serta masalah antara client server dan aplikasi berbasis web. Begitu disampaikan oleh Ashari Abidin, CIO QB Creative.
Selain itu, resistensi dari pengguna juga jadi masalah yang kerap ditemui. Banyak orang malas bermigrasi ke sistem operasi Linux karena merasa tidak nyaman dengan antarmukanya. Namun sekarang, sudah banyak distro Linux yang tampil dengan antarmuka senyaman sistem proprietary. "Solusi untuk masalah ini adalah menggunakan sistem operasi dengan interface cukup nyaman, browser yang mendukung, dan menyiapkan aplikasi padanan yang ada di sistem proprietary. Kenyamanan Windows sekarang juga ada di OSS," kata Ashari.
OSS di Media Cetak
Implementasi OSS di media cetak tidak semudah implementasinya di media online. Hal ini diakui oleh Mario Alisjahbana, Presiden Direktur Pinpoint Publications dan Dian Rakyat Group. Dia membagi aplikasi open source menjadi lima bagian, yakni sistem operasi, aplikasi pengolah teks, aplikasi pengolah foto dan gambar, aplikasi desain pracetak, serta aplikasi manajemen dan akuntansi.
Fungsionalitas dan kemudahan penggunaan OSS, kata Mario, makin mendekati OS proprietary. Masalah yang kritis adalah driver untuk perangkat keras dan kompatibilitas dengan perangkat lain, seperti printer, scanner, kamera digital, dan wireless modem. Tips dari dia, sebelum memilih sistem operasi open source, pastikan distronya mudah digunakan. Orang-orang yang terbiasa bekerja di lingkungan Windows, misalnya, sebaiknya memilih OS terbuka yang antarmuka grafisnya mendekati Windows.
Untuk aplikasi pengolah teks, open source menyediakan banyak pilihan. Misalnya KOffice, AbiWord, Gnome-Office, atau yang paling populer, OpenOffice Writer. "Hal yang kritis untuk aplikasi ini adalah dukungan format, kemampuan membuat format PDF, font yang bisa dipakai, dan fasilitas tata letak halaman," kata Mario.
Berikutnya, aplikasi open source pengolah foto dan gambar, ada banyak yang bisa dipilih. Contohnya GIMP, GIMPShop (aplikasi turunan GIMP yang punya antarmuka menyerupai Photoshop), dan Krita. Hal kritis untuk jenis aplikasi ini adalah dukungan untuk manajemen warna (terutama CMYK), kemampuannya membuka beragam format, dan kemampuan kerja dengan tingkat gradasi.
Untuk proses desain dan pracetak - mengolah foto, gambar, dan mengatur tata letak halaman - ada aplikasi yang cukup andal untuk menggantikan Adobe Indesign yang harganya mahal. Namanya Scribus, kata Mario. Sayangnya, aplikasi ini menuntut spesifikasi hardware yang cukup tinggi supaya programnya tidak berjalan lambat. Hal yang juga masih jadi kendala, manajemen warna Scribus lebih sederhana, dan font yang disediakannya agak berbeda dengan font yang disediakan oleh aplikasi proprietary. "OSS pun masih asing di kebanyakan percetakan," tambahnya. Karena alasan inilah, implementasi OSS secara total di bagian pracetak masih sulit untuk dilakukan.
Kenapa Pakai OSS?
Selain bebas dari virus, masih ada banyak alasan lain untuk melirik OSS. "Proprietary software mengurangi kemerdekaan penggunanya. Beli software mahal, tapi ada pembatasan penggunaannya untuk komputer tertentu saja," kata Mario.
Berapa penghematan yang bisa dilakukan perusahaan media dengan menggunakan open source? "Untuk penghematan, hitungannya saya bagi jadi dua kelas," katanya. "Pertama untuk komputer yang dipakai orang banyak, misalnya wartawan dan sekretaris, penghematannya sekitar 500 dolar AS per komputer. Itu penghematan untuk (tidak menggunakan) MS Office dan Windows. Untuk komputer di bagian desain dan grafis, penghematannya bisa mencapai 2.500 dolar AS per komputer, menyangkut softwares seperti Photoshop, Indesign, dan Corel Draw. Tapi migrasi total untuk komputer grafis ini masih sangat sedikit - hampir tak ada."
Dibandingkan proprietary software, OSS menawarkan skema biaya operasional yang lebih efisien bagi perusahaan. Jadi, kenapa perusahaan tidak berpikir realistis dan beralih menggunakan OSS?
Gambar: www.digijet.net | |