 Oleh: Merry Magdalena
Menjadi
yang pertama di Indonesia dalam barisan perusahaan yang fokus pada Linux, tidak membuat PT Linuxindo Total Solusi jadi sombong. Justru itu
menjadi suatu lecutan semangat untuk bergerak lebih maju. Tahun1998,
saat Open Source Software (OSS) belum terlalu popular di negeri ini,
Linuxindo sudah memulainya lebih dulu untuk berbisnis di bidang ini.
Mengapa mereka memilih Linux?
“Waktu itu saya membuka subnet
dari Indonet di Pekanbaru, karena Indonet hampir semua servernya pakai
Linux, ya mau tidak mau kita harus belajar. Di sanalah saya mulai
mengenal Linux dan merasakan kemampuan Linux yang luar biasa stabil
dalam menghandle terutama untuk kebutuhan server seperti Email, DNS,
firewall dan sebagainya,” ujar Effendy Kho, Presiden Direktur Linuxindo Total Solusi kepada QBHeadlines.
Nyaris semua aplikasi Linux yang dijumpai Ase, demikian sapaan akrab Effendy, terbukti tahan
banting. Sejak itulah Ase jatuh cinta pada Linux dan mendirikan Linuxindo. Perusahaan yang bermarkas di bilangan Gatot Subroto ini
mengkhususkan diri pada khususnya jasa integrasi, pengembangan aplikasi, installasi, maintenance dan training dengan tujuan untuk memasyarakatkan Linux dengan kelebihan yang free software dan Open Source.
Kendala
Mengubah
kebiasaan dan pola pikir untuk menerima sesuatu yang baru diangap oleh
Ase sebagai kendala utama dalam menyosialisasikan OSS selama ini.
Biasanya, makin tua usia seseorang, makin sulit untuk berubah. Untuk
itu sasaran Linuxindo lebih ditargerkan kepada mereka yang berusia
muda. Terbukti memang yang muda-muda cukup berminat dalam belajar OSS dan mengutak-atik komputer. Biasanya ada juga karyawan perusahaan yang
belajar OSS secara terpaksa karena kantornya melakukan migrasi dari propietary ke OSS. Namun ada juga yang mengusulkan ke atasannya agar melakukan migrasi.
Kebanyakan
Linuxindo mengunakan distro berbasis Redhat. Sebenarnya masalah distro
ini tidak terlalu penting sebab mereka menekankan setiap peserta
trainingnya untuk menguasai Command Line Interface (CLI), jadi tidak
terpaku ke distro.
100% Linux
Distro
itu seperti fashion yang datang dan pergi. Dengan menguasai CLI
harusnya bisa menjalankan semua distro karena pada dasarnya sama saja,
bedanya hanya di Graphical User Interface (GUI). Sejauh ini distro yang
paling diminari klien adalah Centos untuk server, sedangkan untuk
desktop adalah Ubuntu dan Mandriva.
Seluruh aplikasi di kantor
Linuxindo sendiri sudah 100% menggunakan OSS. Semua karyawan Linuxindo menjalani training dulu sebelum bekerja. "Namanya juga Linuxindo, malu
dong ngga pakai Linux," seloroh Ase.
Foto: oreillynet.com |